Pages

Ahlan wa sahlan....

Ahlan wa sahlan

Cari

Memuat...

Selasa, 09 Maret 2010

KODE BABI PADA MAKANAN BERKEMAS (Oleh Dr.M. Anjad Khan)

Salah seorang rekan saya bernama Shaikh Sahib, bekerja sebagai pegawai di
Badan Pengawasan Obat & Makanan (POM) di Pegal, Perancis. Tugasnya,
mencatat semua merk barang, makanan & obat-obatan

Produk apapun yang akan disajikan suatu perusahaan ke pasaran,
bahan-bahan produk tesebut harus terlebih dulu mendapat ijin dari BPOM
Prancis dan Shaikh Sahib bekerja di bagian QC. Tak heran jika ia mengetahui
berbagai macam bahan makanan yang dipasarkan. Banyak dari bahan-bahan tersebut
dituliskan dengan istilah ilmiah, namun ada juga beberapa yang dituliskan dalam
bentuk matematis seperti E-904, E-141.

Awalnya, saat Shaikh Sahib menemukan bentuk matematis, dia penasaran
lalu menanyakan kode matematis tersebut kepada orang Prancis yang berwenang
dalam bidang itu. Orang Prancis menjawab, Kerjakan saja tugasmu, dan
jangan banyak tanya ...!

Jawaban itu, semakin menimbulkan kecurigaan Sahib, lalu ia pun mulai
mencari tahu kode matematis dalam dokumen yang ada. Ternyata, apa yang
dia temukan cukup mengagetkan kaum muslimin dunia. Hampir di seluruh
negara bagian barat, termasuk Eropa pilihan utama untuk daging adalah daging
babi.

Peternakan babi sangat banyak terdapat di negara- negara tersebut. Di
Perancis sendiri jumlah peternakan babi mencapai lebih dari 42.000 unit.
Jumlah kandungan lemak dalam tubuh babi sangat tinggi dibandingkan
dengan hwan lainnya. Namun, orang Eropa & Amerika berusaha menghindari
lemak-lemak itu. Yang menjadi pertanyaan dikemanakan lemak-lemak babi
tersebut ? Babi-babi dipotong di rumah jagal yang diawasi BPOM, tapi yang bikin
pusing POM adalah membuang lemak yang sudah dipisahkan dari daging babi.
Dahulu sekitar 60 tahun lalu, lemak-lemak babi itu dibakar. Kini mereka
pun berpikir untuk memanfaatkan lemak-lemak tersebut. Sebagai awal uji
cobanya, mereka membuat sabun dengan bahan lemak babi, dan ternyata
berhasil.

Lemak-lemak itu diproses secara kimiawi, dikemas rapi dan dipasarkan.
Negara di Eropa memberlakukan aturan yang mewajibkan bahan setiap
produk makanan, obat-obatan harus dicantumkan pada kemasan. Karena itu, bahan
dari lemak babi dicantumkan dengan nama Pig Fat (lemak babi) pada
kemasan produknya. Agar mudah dipasarkan, penulisan lemak babi dalam kemasan
diganti dengan lemak hewan. Ketika produsen ditanya pihak berwenang dari negara Islam,
maka dijawab lemak tersebut adalah lemak sapi & domba. Meskipun begitu
lemak-lemak itu haram bagi muslim, karena penyembelihannya tidak sesuai
syariat Islam.Label baru itu dilarang keras masuk negara Islam, akibatnya
produsen menghadapi masalah keuangan sangat serius, karena 75% penghasilan
mereka diperoleh dengan menjual produk ke negara Islam, mengingat laba yang
dicapai bisa mencapai miliaran dollar.

Akhirnya, mereka membuat kodifikasi bahasa yang hanya dimengerti BPOM,
sementara orang lain tak ada yang tahu. Kode diawali dengan E ? CODES,
E-INGREDIENTS, ini terdapat dalam produk perusahaan mutinasional,
antara lain :
pasta gigi, permen karet, cokelat, gula2, biskuit, makanan kaleng,
buah2an kaleng, dan beberapa multivitamin serta masih banyak lagi jenis makanan
& obat2an lainnya.

Karena itu, saya mohon kepada sesama muslim dimana pun, untuk
memeriksa secara seksama bahan2 produk yang akan kita konsumsi dan mencocokannya
dengan daftar kode E-CODES, berikut ini karena produk dengan kode-kode
di bawah ini, positif mengandung lemak babi :
E100, E110, E120, E-140, E141, E153, E210, E213, E214, E216, E234,
E252,E270, E280, E325, E326, E327, E337, E422, E430, E431, E432, E433, E434, E435, E436, E440, E470, E471, E472, E473, E474, E475, E476, E477, E478, E481, E482,E483, E491, E492, E493, E494, E495, E542, E570, E572, E631, E635, E904.

Adalah tanggungjawab kita bersama untuk mengikuti syari'at Islam dan
juga memberitahukan informasi ini kepada sesama muslim lainnya.
Semoga manfaat,
M. Anjad Khan
Medical Research Institute United States
****************

Dear all ...
Jika memang emulsifier yang dipake starbuck adalah kode E471 (tidak ada
embel2 lain, misal : lecithin de sojaatau soy lecithin), maka saya
yakni bahwa "origin"nya adalah pork or varken (babi)
Sebenarnya tak hanya E471 tapi juga E472, para keluarga muslim
Groningen the Netherlands & ikatan kel muslim Eropa memperingatkan kami utk
mengecek content / ingredient emulsifier ini pd setiap produk makanan yg akan
dibeli. Kami pun sempat kaget, karena emulsifier juga digunakan pada roti
tawar. Karena itu, kami sarankan kpd kel muslim utk pilih roti tawar dg
istilah biological bread (non-chemical additive), tentu saja resikonya harga
lebih mahal (1/2 blok roti tawar jenis ini hampir 3 X harga roti tawar dg
emulsifier),yang pentingkan halal.
****************************

FYI ....
E471 biasa dikenal dg sebutan lecithin è originnya merupakan ekstrak
dari tulang babi.
E472 (saya tak ingat nama dagangnya) è originnya adalah ekstrak
tulang babi.
Kedua additive ini merupakan senyawa turunan dr asam lemak (fatty
acid).

Biasanya kedua additive ini sangat sering ditemukan pada produk2
berikut :
Produk makanan mengandung cokelat è roti, ice cream, biskuit, dll
Produk makanan yg perlu elmusifier è coklat bar, ice cream, or bulk,
coffee cream, marshmallo, jelly, dsb.
Demikian sekilas info, semoga manfaat

Wallahu'alam bi shawab

Di copi dari:http://www.facebook.com/note.php?created&&suggest¬e_id=327377476104

revisi dr catatan di atas

Columnae Briccabracci Arios #61 ~Originale~ : E-numbers dan Informasi yang Tidak Boleh Ditelan Begitu Saja

Perhatian!
Dibutuhkan pengetahuan Kimia setingkat SMU atau lebih tinggi untuk memahami keseluruhan info yang hendak saya sampaikan dalam notes ini.

==============================




Menanggapi note tentang keraguan halal dan haram beberapa senyawa yang hanya ketahuan nomornya dari saudari Ann Fauziana, saya sekali lagi terpaksa berdecak kepada aktivisme salah sasaran para saudara-saudari sesama Muslim saya ini. Betapa tidak? Note yang tidak akurat itu telah tersebar bersama informasi tidak akurat pula. Tujuannya baik memang, agar publik waspada, tapi bila materi tersebut tidak dicek kebenarannya tentu malah lebih berbahaya bagi kalangan awam.

Saya tidak akan mengutip banyak dari note induk di sini, hanya substansi yang ilmunya saya kuasai. Silahkan dibenarkan bila ada informasi dari saya yang salah.

...Karena itu, saya mohon kepada sesama muslim dimana pun, untuk memeriksa secara seksama bahan2 produk yang akan kita konsumsi dan mencocokannya dengan daftar kode E-CODES, berikut ini karena produk dengan kode-kode di bawah ini, positif mengandung lemak babi :

E100, E110, E120, E-140, E141, E153, E210, E213, E214, E216, E234, E252,E270, E280, E325, E326, E327, E337, E422, E430, E431, E432, E433, E434, E435, E436, E440, E470, E471, E472, E473, E474, E475, E476, E477, E478, E481, E482,E483, E491, E492, E493, E494, E495, E542, E570, E572, E631, E635, E904.



Pertama-tama, kita perlu mengenal apa arti nomor di belakang huruf E besar itu. Menurut artikel wikipedia ini, E-numbers adalah kode yang ditetapkan Codex Alimentarius untuk zat-zat tambahan makanan. Kode angka itu mempunyai arti:

100 - 199: Pewarna makanan
200 - 299: Pengawet
300 - 399: Antioksidan dan pengatur keasaman
400 - 499: Pengental, penstabil, dan pengemulsi
500 - 599: Agen anti-penggumpalan dan pengatur pH
600 - 699: Penambah rasa
700 - 799: Antibiotika
900 - 999: Lain-lain (lilin, pelapis sintetik, aditif tepung, gas pengawet, pemanis, penimbul busa)
1100 - 1599: Zat aditif lainnya yang tidak bisa digolongkan pada golongan di atas

Dalam golongan-golongan tersebut dapat dilihat klasifikasi lebih lanjut berdasarkan sifat-sifat dan bahan aditif makanan yang bersangkutan.

Masih bersama saya sejauh ini? Baik. Setelah kita mengetahui bahan-bahan berkode-E ini, bisa kita mulai proses eliminasi menurut nomor-nomor kode yang dicantumkan di artikel tersebut. Kata kunci yang digunakan di sini (dan yang diributkan di note asal) adalah "lemak" dan "asam lemak". Mari kita mulai dari senyawa-senyawa E1xx.

E100: Curcumin
E110: Sunset Yellow FCF
E120: Cochineal, Asam Carminic, Carmine, Natural Red 4
E140: Klorofil
E141: Senyawa tembaga dari Klorofil
E153: Carbon Black

Mulai terlihat keanehan info tersebut? Tepat. Curcumin diekstrak dari temulawak, Sunset Yellow adalah turunan batu bara (azo), senyawa-senyawa E120 semuanya merupakan ekstraksi dari serangga Cochineal (Ordo Homoptera, Superfamili Coccoidea), Klorofil ada di sebagian besar dari bagian tumbuhan yang berwarna hijau, dan Carbon Black dibuat dengan membakar bahan nabati atau tulang. Perlu diketahui juga (Alhamdulillah, belajar ki-das dan biokim euy!) bahwa proses ekstraksi dari bahan-bahan nabati biasanya menggunakan alkohol atau pelarut organik lainnya, yang saya haqul yakin tidak ada hubungannya dengan babi dan barang haram lainnya. Well, Alkohol memang haram karena memabukkan, namun alkohol industri haram karena alasan lain: membahayakan.

Keberatan saya pada golongan ini mungkin hanya pada E153... Carbon Black yang didapatkan dari pembakaran tulang babi/anjing/binatang yang disembelih selain atas nama Allah/bangkai sudah tentu haram. Saya menyerahkan kesimpulan saya bahwa bahan yang perlu diwaspadai di sini (diluar dugaan saya) adalah E153, walaupun saya cukup yakin senyawa setara E153 yang diproduksi di Indonesia aman dari cemaran bahan haram. Selain itu... Carbon Black adalah agensia karsinogenik dan aslinya pewarna ban, masa masih mau dimakan? ;)

Masih mengikuti? You should be ;) Mari kita lanjutkan ke senyawa-senyawa golongan E2xx.

E210: Asam benzoat
E213: Kalsium Benzoat
E214: Ethylparaben (etil para-hidroksibenzoat)
E216: Propylparaben (propil para-hydroksibenzoat)
E234: Nisin
E252: Kalium Nitrat (Saltpeter)
E270: Asam Laktat
E280: Asam Propionat

Empat senyawa pertama semuanya adalah turunan benzoat, yang dibuat dengan mereaksikan oksigen dengan toluena. Nisin didapatkan dari fermentasi susu atau dekstrosa oleh bakteri Lactococcus lactis. Kalium nitrat... well, dahulu kalium nitrat diproduksi dengan mengekstraksi dari guano (kotoran burung), namun sekarang sudah seluruhnya diproduksi dengan proses Haber-Bosch yang menggunakan nitrogen dan oksigen dari udara (ditambahkan kalium, tentunya, karena proses Haber-Bosch sendiri hanya menghasilkan nitrat). Asam laktat diproduksi massal dengan fermentasi bakteri Lactobacillus, sedang asam propionat diproduksi dengan proses hidrokarboksilasi etilen gas alam dengan bantuan nikel karbonil sebagai katalis. Menurut saya semua proses ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan lemak babi... well, kecuali saudara-saudari mau mencoba mendongkel pendapat saya tentang proses pembuatan E234 dan E270 dengan 'dalil MSG' (enzim haram yang tidak bercampur dengan substrat membuat seluruh produk menjadi haram)? Saya persilahkan ;)

Perhentian berikutnya~ para senyawa E3xx.

E325: Natrium Laktat
E326: Kalium Laktat
E327: Kalsium Laktat
E337: Kalium Natrium Tartrat

Hmm, tenang sebelum badai. Natrium, kalium, dan kalsium laktat? Ketiganya adalah turunan asam laktat yang dibuat dengan menetralkan asam laktat dengan unsur yang diinginkan (natrium, kalium, atau kalsium)... voila! Garam laktat! Untuk Kalium Natrium Tartrat, zat ini dibuat dengan memanaskan kalium bitartrat dan natrium karbonat bersama-sama lalu menyaringnya selagi panas lalu dikeringkan. No sir, no pok there... kecuali, tentu, 'dalil MSG' berkata lain.


Gentlemen...
*sunglasses*
I think we have entered the storm.

[thewho]YYEEEEEEAAAAAAAAH[/thewho]


*ehem* Maafkan sisi kreatif saya. Sampai mana kita tadi? Ah, ya. Jantung tornado. Golongan E4xx. Sedikit dipisah-pisah untuk kenyamanan membaca.

E422: Gliserol

Oh ho, air panas mulai dituang! Gliserol dapat dimurnikan dari produk sampingan transesterifikasi biodiesel, namun lebih banyak didapatkan dari produk sampingan (sedih ya, gliserol?) reaksi penyabunan/saponifikasi lemak hewani dan nabati. Di sini saya menyerahkan kesimpulan kembali untuk kemungkinan haram gliserol.

E430: Polioksietena (8) stearat
E431: Polioksietena (40) stearat
E432: Polioksietena (20) sorbitan monolaurat (polysorbate 20)
E433: Polioksietena (20) sorbitan monooleat (polysorbate 80)
E434: Polioksietena (20) sorbitan monopalmitat (polysorbate 40)
E435: Polioksietena (20) sorbitan monostearat (polysorbate 60)
E436: Polioksietena (20) sorbitan tristearat (polysorbate 65)

Woah, cukup banyak yang perlu diperiksa di sini... tidak. Cukup mudah untuk membedakan asal dari senyawa-senyawa itu. Caranya, lihat kata paling terakhir dari nama formal mereka. Bila ada unsur stearat, maka sebagian besar asalnya adalah reaksi saponifikasi/penyabunan lemak hewan yang mungkin haram. Bila ada unsur oleat, palmitat, dan laurat, maka asalnya adalah reaksi penyabunan minyak nabati (palmitat dan laurat berasal dari minyak kelapa sawit; oleat berasal dari minyak zaitun, kacang tanah, wijen, anggur, dsb) yang dapat dipastikan halal. Kesimpulannya di sini? E432, E433, dan E434 dapat dipastikan halal, sedangkan E430, E431, E435, dan E436 ada kemungkinan haram.

E440: Pektin

Pektin, yang diekstrak dari kulit jeruk dan sisa apel untuk jus dengan cara perendaman bahan dengan asam panas lalu presipitasi dengan etanol atau isopropanol, dapat dipastikan halal. Kecuali tentu, ada orang ceroboh yang mencampurkan minyak babi ke dalamnya. Tapi dengan melakukan hal itu ia menurunkan mutu pektinnya, dan membuat pektin tersebut tidak lulus standar mutu. Oh, teori konspirasinya! ;)

E470: Garam-garam asam lemak:
470 - Al, Ca, Na, Mg, K dan/atau NH4
470a - K, Na, dan/atau Ca
470b - Mg

Sekali lagi, cukup mudah untuk membedakan asal dari senyawa-senyawa itu. Caranya, lihat kata paling terakhir dari nama formal mereka. Bila ada unsur stearat, maka sebagian besar asalnya adalah reaksi saponifikasi/penyabunan lemak hewan yang mungkin haram. Bila ada unsur oleat, palmitat, dan laurat, maka asalnya adalah reaksi penyabunan minyak nabati (palmitat dan laurat berasal dari minyak kelapa sawit; oleat berasal dari minyak zaitun, kacang tanah, wijen, anggur, dsb) yang dapat dipastikan halal.

E471: Asam lemak dengan bentuk monogliserida dan digliserida
E472: Ester asam lemak
472a - Ester asetat dari asam lemak dengan bentuk monogliserida dan digliserida
472b - Ester laktat dari asam lemak dengan bentuk monogliserida dan digliserida
472c - Ester sitrat dari asam lemak dengan bentuk monogliserida dan digliserida
472d - Ester tartrat dari asam lemak dengan bentuk monogliserida dan digliserida
472e - Ester tartrat monoasetil dan diasetil dari asam lemak dengan bentuk monogliserida dan digliserida
472f - Campuran ester asetat dan ester tartrat dari asam lemak dengan bentuk monogliserida dan digliserida
472g - Monogliserida tersuksinilasi

Oh yeah! Di sini inti permasalahan note mbak Ann bermula. Jawaban untuk persoalan ini pun ternyata cukup sederhana, karena asal asam lemaknya masih bisa diketahui. Caranya masih seperti tadi, lihat kata paling terakhir dari nama formal mereka. Bila ada unsur stearat, maka sebagian besar asalnya adalah reaksi saponifikasi/penyabunan lemak hewan yang mungkin haram. Bila ada unsur oleat, palmitat, dan laurat, maka asalnya adalah reaksi penyabunan minyak nabati (palmitat dan laurat berasal dari minyak kelapa sawit; oleat berasal dari minyak zaitun, kacang tanah, wijen, anggur, dsb) yang dapat dipastikan halal. Untuk gliserida bisa mengikuti dugaan pada gliserol.

E473: Ester sukrosa asam lemak
E474: Sukrogliserida
E475: Ester poligliserol asam lemak
E476: Poligliserol polirisinoleat
E477: Ester propana-1, 2-diol dari asam lemak, dan ester propilen glikol dari asam lemak
E478: Ester asam lemak terlaktilasi dari gliserol dan propana-1

Gempuran asam-asam lemak belum berakhir, saudara-saudari! Cara mengenalinya masih sama kok (saya tidak mau mengulangi deja vu lebih banyak dari ini XD). Stearat dan gliserida/gliserol, ada kemungkinan haram. Oleat, laurat, atau palmitat, hampir pasti halal.

E481: Natrium stearoyl laktilat
E482: Kalsium stearoyl laktilat
E483: Stearil tartrat

Hmm. Tiga bersaudara turunan stearat ini ada kemungkinan haram, menurut pengenalan sederhana yang dari tadi saya pakai. Sedikit warna yang menguatkan premis dari note saudari Ann, no?

E491: Sorbitan monostearate
E492: Sorbitan tristearate
E493: Sorbitan monolaurate
E494: Sorbitan monooleate
E495: Sorbitan monopalmitate

Akhirnya, kita sampai di penghujung golongan E4xx, yaitu golongan sorbitan atau Span. Dari sini terlihat lagi, kunci pengenalan sederhana berdasarkan makna nama yang tadi dipakai masih berlaku. Dua turunan stearat ada kemungkinan haram, sementara sisanya yang laurat, oleat, dan palmitat? Rapi jali halalnya.

Dengan badai asam lemak yang baru lewat, apa perjalanan kita selesai sampai di sini? Belum. Mari kita bungkus dengan enam senyawa penutup.

E542: Fosfat tulang
E570: Asam stearat
E572: Magnesium stearat, kalsium stearat
E631: Dinatrium Inosinat
E635: Dinatrium ribonukleotida ujung-5'
E904: Shellac

Fosfat tulang, tentu diekstrak dari tulang-belulang, dan ada kemungkinan haram. Idem ditto dengan dua turunan stearat di bawahnya, berdasarkan reputasi stearat yang ada kemungkinan haram. Yang menarik adalah dua senyawa dinatrium di bawahnya... keduanya dipakai sebagai pelengkap MSG dalam menghadirkan rasa gurih/umami pada makanan. Dinatrium inosinat diketahui terdapat secara alami pada daging babi, namun... yang dipakai dalam industri makanan sebagai aditif (yang mahal! LOL) diproduksi dengan menggunakan bakteri yang telah direkayasa gennya. Menurut saya cukup untuk mengatakannya halal. Dinatrium ribonukleotida ujung-5' sendiri adalah campuran dari dinatrium inosinat dan dinatrium guanilat, yang diproduksi dari ikan. Hmm, menurut saya halal. Terakhir Shellac, bahan pengilat yang lazim untuk permen dan coklat... bahan ini, sama seperti Cochineal, adalah ekstrak serangga yang, sejauh pengetahuan saya, halal.

Kesimpulannya? Banyak dari senyawa-senyawa ini yang ada kemungkinan haramnya, namun banyak pula yang sebenarnya hanya 'korban tidak berdosa'. Shellac, Cochineal, Curcumin, senyawa-senyawa benzoat, senyawa-senyawa laktat... banyak yang hanya 'kena catut' di note saudari Ann sebelumnya. Mudah-mudahan dengan 'pelurusan' ini, masalahnya menjadi lebih jelas.

Namun setelah sejauh ini, pertanyaan lain mengemuka: Apakah semua cara identifikasi ini praktis untuk kehidupan sehari-hari? Jawabannya TIDAK. Mengapa? Karena dalam E-Numbers ini semuanya sulit dipastikan. Asam stearat memang komponen yang paling banyak dijumpai dalam lemak hewan, pembuatannya pun dari lemak hewan yang boleh dicurigai ada babinya, namun juga terdapat dalam lemak tumbuhan. Asam oleat dan palmitat, misalnya, juga terdapat dalam lemak hewan. Siapa yang tahu produk E472 itu datang dari lemak hewan atau tumbuhan? Apa semuanya mau dipayungi dengan payung su'udzan hanya karena mereka orang Eropa, 'penipu-penipu' yang tidak seiman dengan umat Islam? Semua condong pada yang subhat.

Selain itu, dalam tulisan doktor-yang-sekarang-saya-ragukan-gelar-doktornya-itu yang disitir saudari Ann itu juga menyebutkan bahwa penjualan produk-produk turunan lemak hewan dari Eropa pada negara-negara Islam mencapai 75% pendapatan mereka. Apakah betul pangsa produk turunan lemak hewan Eropa pada negara-negara dengan mayoritas penduduk Islam mencapai 75% pendapatan mereka semua? Ke mana pendapatan dari penjualan ke Meksiko, Brazil, dan negara-negara Amerika Latin lainnya, apakah sebegitu kecilnya? Bagaimana dengan India, Cina, dan Jepang, ekonomi-ekonomi kuat Asia yang mungkin ikut pula mengimpor? Akal sehat saya kok tidak mendukung kemungkinan itu... bagaimanapun negara-negara kaya seperti Oman, UAE, dan Brunei yang kuat mengimpor sabun eksklusif dari Eropa secara berkala tentunya jumlahnya tidak sebanyak negeri yang memproduksi sabun sendiri dengan bahan-bahan dalam negeri yang lebih murah (atau bahkan yang mandi tidak pakai sabun atau tidak mandi sekalian). Sintesis bahan-bahan oleat, palmitat, dan laurat pada prinsipnya cukup mudah; kita hanya perlu memisahkan gugus (umumnya tri-) gliserida dan asam lemaknya saja. Sesederhana itu. Mengherankan bila Indonesia atau Malaysia sebagai dua produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia tidak punya pabrik pengolahan ketiga asam lemak itu. Or is it? The mystery...

Jadi, bagaimana baiknya? Hindarilah yang ada kemungkinan haramnya, namun jangan paranoid. Baik untuk berhati-hati terhadap kopi BintangDuit (baca: Starbucks) yang, disamping mahal, juga katanya mengandung E472 yang ada kemungkinan haramnya, namun apakah bijak untuk menghindar sama sekali dari permen coklat yang terbuat dari mentega coklat asli dan 'hanya' mengandung E904 dan E120? Tentu tidak bukan? Yah, kecuali anda senang ber-su'udzan/buruk sangka ria pada nomor-nomor E ini ;)

revisi di copi dari:http://www.facebook.com/note.php?note_id=489358960262

0 komentar:

Poskan Komentar